Racikan Anggaran Ala Bupati Tabanan

Racikan Anggaran Ala Bupati Tabanan

Tidak banyak daerah yang memiliki pemimpin perempuan. Tabanan salah satunya. Bupati salah satu kabupaten di Bali ini adalah Ni Putu Eka Wiryastuti, yang kini menjabat untuk periode kedua. Di tangannya, Tabanan berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi, baik di tingkat daerah maupun nasional. Penghargaan tersebut antara lain juara terbaik I Anugerah Pangripta Nusantara (APN) 2017 untuk kategori Kabupaten dengan Perencanaan Terbaik yang diberikan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas, penghargaan Perencanaan Pembangunan Daerah (PPD) terbaik tingkat provinsi tiga kali berturut-turut dari 2016 hingga 2018, Indonesia’s Attractiveness Award 2018, dan masih banyak lagi.

Racikan Anggaran Ala Bupati Tabanan

Itu cerita sukses saat ini. Namun dulu, ketika pertama kali Eka menjabat sebagai bupati pada 2010, untuk membangun Tabanan ia berhadapan dengan berbagai keterbatasan. Salah satunya Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Jumlahnya kecil, dibanding kabupaten di sekitar, ujar Eka. Saat itu, jumlah PAD Tabanan berkisar Rp116 miliar. Bupati Eka memutar otak. Karena ia perempuan, ia menggunakan manajemen dapur, yaitu Tabanan sebagai dapurnya dan APBD jadi uang belanjanya. Kami ingin menciptakan sesuatu dengan biaya yang tidak mahal, tetapi itu menyentuh sekaligus yang diinginkan rakyat. Hal pertama yang mendapat perhatiannya adalah masalah infrastruktur. Ia meyakini, infrastruktur diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi daerah.

Dulu jalan rusak parah. Sampai ada yang ditanami pohon pisang oleh masyarakat, katanya. Masalahnya karena uangnya terbatas. Hanya mengandalkan anggaran pemerintah, dana untuk membangun jalan jauh dari cukup. Ia pun mencari cara, membuat resep baru. Lahir program partisipatif infrastruktur. Kami membangun jalan secara gotong royong. Pemerintah menyiapkan materialnya dan masyarakat yang membangun. Ada sekitar 500 titik jalan yang dibangun rakyat. Jumlahnya kalau dijadikan proyek mungkin sekitar Rp3 triliun. Tetapi kami hanya menghabiskan sekitar Rp10—11 miliar, ucapnya.

Resepnya ini ternyata tidak hanya berhasil membuat jalan terbentang, tetapi membangun juga self belonging warga serta mendekatkan jajaran pemerintahannya dengan masyarakat. Kami turun bersama wakil rakyat ke daerah-daerah di mana jalan dibangun. Bertemu dengan bapak-bapak yang bekerja dan ibu-ibu yang memasak makanan. Kami jadi pesta kuliner, ujar Bupati yang hobi memasak ini. Belakangan, setelah PAD dan anggaran belanja tumbuh, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan juga membangun jalan-jalan hotmix yang seluruh pembangunannya ditangani pemerintah. Kabupaten ini menghabiskan separuh lebih dari APBD untuk infrastruktur. Sekarang sudah hampir 75 persen jalan selesai. Target kami di tahun depan sudah selesai semua, tidak ada lagi masalah jalan, kata Eka. Pada periode kedua masa kepemimpinannya, Bupati Eka mulai fokus membangun ekonomi.

Pemkab membangun simpul-simpul ekonomi kerakyatan dalam wadah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Saat ini sudah ada 90 BUMDes dan Eka berharap nantinya 133 desa di seluruh Tabanan bakal berdiri BUMDes. Pembangunan berbasis ekonomi kerakyatan ini diselaraskan dengan program wisata desa, sehingga sinergisitas untuk menjaga kearifan lokal budaya dan alam terus terjaga. Hingga kini, di Kabupaten Tabanan terdapat 22 desa wisata dan akan bertambah hingga menjadi 40 desa wisata. Saya ingin rakyat menjadi pelaku dan penikmat dari ekonomi kerakyatan itu sendiri, kata Ni Putu Eka Wiryastuti. Ia pun mengharapkan perusahaan-perusahaan dapat membantu melalui program CSR.

Author: donny