Penderita Diabetes Rentan Terkena Tuberkulosis

Penderita Diabetes Rentan Terkena Tuberkulosis

ELAN Herlano, 52 tahun, terduduk lemas di bangku tunggu Klinik TB-MDR Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta, Jumat, 26 April lalu. Se-sekali ia menyorongkan plastik kresek hitam ke mulutnya seperti hendak muntah, tapi yang keluar cuma sendawa dan air liur. Efek obatnya gitu, bikin mual, kata Rohmah, 50 tahun, istri Elan. Dokter memvonis Elan menderita tuberkulosis resistan-obat dan harus menjalani pengobatan selama 20 bulan. Buat Elan, ini penyakit ketiga yang mengharuskannya mengkonsumsi obat setiap hari.

Penderita Diabetes Rentan Terkena Tuberkulosis

Pria yang semula berprofesi sebagai tukang ojek ini lebih dulu terdiagnosis menderita diabetes melitus, lalu darah tinggi. Tetangga kami juga banyak yang kena diabetes sama TBC, ucap Rohmah, yang tinggal di Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Meski setiap hari harus bolak-balik mengantar suaminya berobat, Rohmah bersyukur ia, tiga anak, dan cucunya yang tinggal bersama mereka tak menyandang penyakit yang sama. Dokter bilang yang kena diabetes memang lebih gampang kena TBC, ujarnya.

Tapi ia masih waswas cucunya yang masih berusia balita itu bakal ikut terinfeksi. Rohmah meminta Elan selalu memakai masker di rumah dan tak mencium cucunya tersebut.

Di belakang Elan, Ahmada juga terduduk lesu. Dua bulan sudah warga Matraman, Jakarta Timur, itu berjuang untuk sembuh dari penyakit yang sama. Bedanya, level TBC yang diderita Ahmada, 50 tahun, lebih ringan. Bakteri yang bersemayam di tubuhnya terdiagnosis belum resistan terhadap obat. Tapi, karena dia juga kena diabetes, pengobatannya jadi sembilan bulan, tutur Juwariah, 47 tahun, istrinya.

Pada orang tanpa diabetes, TBC yang masih sensitif ini cukup diobati selama enam bulan. Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menular langsung dari manusia ke manusia lewat percikan dahak. Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tapi bisa juga menyasar organ tubuh lain seperti tulang, otak, kelenjar, dan kulit. Adapun diabetes melitus adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula (glukosa) di dalam darah akibat resistansi insulin atau tubuh tak cukup memproduksi hormon tersebut. Dua penyakit yang berlainan ini ternyata bisa berkaitan. Keberadaan yang satu bisa mendorong munculnya yang lain. Diabetes bisa meningkatkan risiko terjangkit TBC.

TBC pun bisa menyebabkan penderitanya menyandang diabetes. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam situsnya menyebutkan TBC dapat menyebabkan gangguan intoleransi glukosa yang merupakan faktor risiko berkembangnya diabetes. Dokter penyakit dalam konsultan penyakit infeksi tropik, Erni Juwita Nelwan, mengatakan diabetes membuat imunitas menurun. Akibat kadar gula darah yang tinggi, sel-sel dalam tubuh menggendut, termasuk sel yang bertugas melawan infeksi. Karena gemuk, gerakan sel menjadi lambat sehingga, ketika tubuh diserang kuman, mereka tak bisa menangkap kuman tersebut dengan cepat dan membunuhnya.

Karena itu, orang yang menyandang diabetes lebih gampang terserang infeksi, termasuk TBC, ketimbang orang yang sehat, ujar Erni. Ia menambahkan, TBC adalah infeksi yang paling sering dialami penderita diabetes. Menurut WHO, penyandang diabetes berisiko tiga kali lipat menderita TBC. Namun, kata dokter spesialis paru, Erlina Burhan, karena Indonesia adalah wilayah endemis, potensi risikonya bisa sampai tujuh kali lipat. Indonesia menempati urutan ketiga beban jumlah penderita TBC terbesar di dunia di bawah India dan Cina.

Apalagi penularan penyakit ini mudah, lewat udara. Selain itu, diabetes bisa membuat bakteri TBC yang semula tidur di dalam tubuh menjadi terbangun. Pada orang yang memiliki daya tubuh baik, kuman TBC yang masuk ke tubuh tak langsung aktif. Kuman bisa melakukan dormanasi alias tidur sehingga tidak menimbulkan gejala penya- kit—disebut juga dengan TBC laten.

Author: donny